Ingredients: 2 medium size potato, boiled (not overcooked) and diced. 1 medium size onion, thinly sliced 12 button mushroom (champignon), quartered 2 cloves garlic, minced lettuce head, thinly sliced cherry tomatoes olive oil to stirfry italian herbs to taste salt to taste lemon juice from half lemon
wholewheat chips
Directions: stirfry onion with some olive oil until brown and caramelized (20-30 minutes), put into serving bowl with excess oil, stirfry diced potatoes until brownish yellow, put into serving bowl. add some olive oil into the pan, heat the garlic until brownish, stir fry the mushroom until tender, sprinkle some italian herbs and salt. Do not cook too long or the mushroom become to soft and watery. mixed the mushroom with potato and onion in serving bowl.
let it sit to room temperature, then mix in lettuce head and cherry tomatoes. mixed with lemon juice, salt and black pepper to taste.
itu yang sempat saya rasakan waktu berjalan-jalan di NYC awal tahun 2004. Rasanya berbunga-bunga sekali bisa menjalani kota yang hanya sempat saya lihat di film-film dan serial TV macam Sex and the City...
Saking seringnya melihat detektif membeli 'hotdog dan kopi' di pinggir jalan, itu jadi hal pertama yang harus saya lakukan...Nonton di Broadway dan berteriak (untungnya saya masih waras :D ) di Times Square juga diagendakan.
Kemasan film itu sangat berhasil membangkitkan antusiasme saya dengan NYC. Saat membeli Hotdog dan Kopi rasanya saya menjadi bagian dari NYC, sekalipun kemudian kopinya saya buang setelah seteguk (rasanya gak jelas!). Keberhasilan mengemas kota ini tanpa oleh TV dan film merupakan bentuk branding yang sangat mudah dimengerti semua orang, namun sering tidak disadari oleh para manajer kota.
Berapa banyak dari kita yang mau mengenal Bangka Belitung sebelum munculnya Laskar Pelangi? Serial novel Andrea Hirata tentang pengalaman masa kecilnya menjadikan Bangka Belitung tenar, bahkan sekarang sudah ada 'paket tur Laskar Pelangi'!!
Sayangnya belum banyak film atau novel kita yang menjadikan kota-kota di Indonesia sebagai setting cerita mereka. Keluhan yang sama yang saya temukan di blog Tempo tentang hal ini.
Sekalipun demikian, ada saja film indie yang sudah melakukannya, seperti Cin(t)a dengan setting lembah Siliwangi di Bandung. Menonton film itu, rasanya kok ada saja sudut kota Bandung yangbelum saya jalani.
Juga di era 80-an ada serial TV Indonesia berjudul Pondok Indah. Saya yang masih di Makassar saat itu sudah bisa membayangkan Pondok Indah seperti Beverly Hills 90210. Begitu kuat image yang terbentuk sehingga saat pertama kali pindah ke Jawa untuk bersekolah, saya nyaris tidak percaya saat bertemu dengan teman yang tinggal di Pondok Indah tapi penampilannya tidak se'wah' Wulan Guritno. :D
Pertanyaannya, apakah pernah pengelola perkotaan (baik itu pemkot maupun developer swasta) menyadari kekuatan ini?
Mengembalikan pencitraan kota tua, mengangkat sungai Cikapundung, melindungi Babakan Siliwangi dan jajaran kepulauan Spermonde di Makassar bisa saja menggunakan tangan para movie maker.
UNKL347 melakukan intervensi yang mungkin tidak terlihat oleh awam bahkan pemerintah, kecuali oleh para skaters. Intinya sederhana, kalau tidak disediakan, mari buat sendiri.
Gerakan ini bukan bentuk kolaborasi, tapi intervensi yang sangat menyenangkan ;)
Hari Sabtu kemarin, 13 Maret 2010, ada kehebohan di Taman Fatahillah.
Pesta lampu-lampu, kalau menggunakan istilah beberapa teman, merupakan kerjasama antara Pemerintah Provinsi DKI, British Council, Seniman Inggris (D-Fuse), dan seniman Indonesia (Fictionary Film & Sembilan Matahari)
visualisasi tanaman merambati Gedung Fatahillah
Percayalah biayanya pasti tidak murah.
Gelaran Video-mapping selama hanya kurang lebih 10-15 menit ini, memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk:
1) menerbangkan seniman Inggris ke Indonesia
2) menyediakan alat berlumen tinggi untuk menyorot gedung ini
3) menyebarluaskan berita (marketing) tentang kegiatan ini (walaupun banyak juga yang dilakukan dengan biaya rendah dan lebih efektif melalui lini socialmedia)
4) perijinan (?)
5) ...silahkan tambahkan.
Tapi itu bukan lagi masalah saat berada di sana dan melihat Taman Fatahillah (yang diperkirakan berkapasitas sampai dengan 40.000 orang) dipenuhi pengunjung dari berbagai kalangan...
Permainan video mapping di Gedung Fatahillah ini, buat beberapa orang yang sudah pernah melihat di luar negeri, mungkin tidak terlalu wah.
Tapi setidaknya tujuan utama kegiatan ini boleh dibilang untuk malam itu, tercapai.
Rebut Ruang Kreatifmu!
Begitu slogan kegiatan malam itu.
Terlepas dari terlalu seringnya mendengar kata 'kreatif' akhir-akhir ini... istilah "Merebut Ruang "oleh masyarakat sangat tepat.
Bukan hal baru jika kita mendengar keluhan Pemerintah Kota yang kesulitan mengelola ruang publik perkotaan.
Sebutlah Bandung dengan 200 taman-nya dengan kondisi kurang terawat dan terpagari.
Saat ditanyakan mengapa dipagari, jawaban yang diperoleh seringkali sangat pragmatis dan kurang sensitif, seperti "masyarakat belum bisa memanfaatkan ruang publik dengan benar" atau "mengurangi biaya perawatan" atau "mengendalikan vandalisme" atau "menjauhkan kriminalitas"
Mungkin kesulitan yang dihadapi PemKot dikarenakan keterbatasan kosakata yang mereka miliki dalam pemanfaatan ruang publik atau bahkan kewalahan karena perencanaan dan birokrasi keseharian mereka yang menjadikan pengelolaan tidak efektif.
Itu sebabnya dibutuhkan intervensi dari pihak masyarakat untuk mendorong pemanfaatan ruang publik dengan cara yang lebih cerdas.
Kata kuncinya sederhana, tapi mungkin tidak mudah. Kolaborasi.
"Jakarta Creative City" dan gelaran video-mapping (serta beberapa konser) merupakan satu contoh kecil bentuk kolaborasi pelaku seni dan pemerintah provinsi DKI dalam memanfaatkan Taman Fatahillah.
Gelaran Video-Mapping yang pertama kalinya diadakan di Indonesia merupakan daya tarik yang luar biasa...laiknya daya tarik yang ditimbulkan oleh Guggenheim Museum bikinan Gehry di Bilbao.
Keberhasilan menarik puluhan ribu pengunjung seharusnya membukakan mata banyak pihak akan potensi dari pengelolaan ruang publik secara cerdas.
Cafe Batavia yang sehari-harinya sepi pengunjung malam itu kewalahan karena tidak siap mengantisipasi lonjakan pengunjung. Pedagang asongan minuman ringan dan cemilan serta pengelola parkir dadakan mendapat extra dibandingkan hari Sabtu biasanya, asumsi saya.
Bayangkan bila kegiatan semacam ini dikelola dengan baik seperti layaknya mengelola rangkaian acara yang mengisi Jakarta Convention Center atau Sasana Budaya Ganesha Bandung, mungkin membeli properti di sekeliling taman ini bisa menjadi langkah cerdas bagi mereka yang jeli melihat peluang.
Mungkin Pemerintah DKI bahkan lebih jeli?
23:40
para pengunjung mulai bubar selepas 'rerun' Video Mapping di Gedung Fatahillah.
Perlahan keramaian berganti menjadi kelompok-kelompok kecil yang tersebar di beberapa pojokan. Ada yang dangdutan sambil jaipongan, main biliar di gedung tak bertuan yang sudah diakuisisi dan beberapa mojok dengan sedikit mabuk...
sambil berjalan pulang, terlintas...
kira-kira setelah ini akankah ada kelanjutannya?
seberapa besar efek yang ditimbulkan malam ini...?
semoga mereka tidak terjebak pada kehebohan teknologi dan cantiknya lampu warna warni...
I was in conversations about Vote and No-Vote many times...with parents, colleagues, friends, anyone! It is understandable that we are on the edge of losing trust to government after long problems and sad stories in Indonesia. Yet, out of my observations during those conversations, I found most of people I talked to are just reluctant and too tired to find good news in midst of bad news. Some TV stations have good programmed to expose the candidates and parties. TVOne and MetroTV have some News Programme and Talkshow on current policies, candidates and parties. Some of them are -thank goodness- good news. In brief, last year, Indonesia economic growth achieved 6% growth, compare to Singapore is declining -6%. Indonesia has increased annual budget for education up to 25% from 2,5% (after more that 60 years!!). And to give a kind reminder, compare to 1998 financial crisis, Indonesia is more ready to face September 2008 crisis, with good rapport on international loan.
Yes, complaining is the easiest way to take, but it doesn't benefit anyone. By not voting, you have no right to complain... Therefore, I always say to people I engaged with this kind of conversation: "Democracy needs a long way to create a educated and knowledgeable community. Some parties are taking advantage from those who has no proper education. That is why, we, who fortunate to have enough education, needs to use our vote right. Spend time to learn, read news, and understand what has current government done. No-Vote is not a Choice...it is Pathetic"
Hereby I attached page from Newsweek 19th January 2009, about Sri Mulyani, current financial minister who finally bring Indonesia to be acknowledged (again) internationally.
"We have come to take for granted that those locations with large congregations of architecture must be cities." Ole Bouman, Desperate Decadence quotation from essay by Geoff Manaugh from BLDGBLOG.com
"City is a place of energized crowding of people" Spiro Kostof, 1991 classic immortal urban theory for my class
picture: Danou City a new town development at suburb of Vienna
Today I received an extraordinary short wake-up call email, from a friend I never expect will raise such question...to me.
Yul, Dulu elu pernah bilang ke gw: "get a life". Hari ini ada orang bilang ke gw kalo gw ga punya "life". Sekadar ingin tau aja: kalo menurut elu, sebetulnya "life" itu apa?
(english) Yul, You said to me once: "get a life". Today someone told me I don't have a "life" Out of curiosity: for you, what do you think, "life" is?
*jleb!*
It really made me think, several times...before I wrote down my reply.
wow...this is really unexpected interesting email!
ada yang selalu bilang, "hidup itu pendek, hidup itu hanya sekali...jalani dengan sebaik-baiknya. " ada yang bilang juga, "hidup itu fana, jadi tidak penting material yang kamu kumpulkan di sini, tapi yang penting bekal rohaninya " ada satu quote yang selalu gw pegang, "live your life to the fullest. "
kadar fullest itu, hanya kita (yes, you or me) yang menjalani hidup ini, yang bisa menakarnya.
kalo ukuran gw sejauh ini: I've seen world, but I want to see more I have loved ones that I can share my love and love me back I have someone to go home to, to share my daily life story. Thank goodness, I am still loved by God I have good job, I still can teach. Yes I have enemies, but I still have few really good friends. and I am healthy. I may not rich but I am grateful with my life. I am learning to live my life better everyday... and I am on my way to live my life to the fullest...
kalo minta didefinisikan...wahhhh tough job tuh...I'll leave it to the philosophers :)
oh ya, mungkin uji lakmus aja ... do you still have passion in your life? if not...be still and think back.
thanks for the email ...bikin gua ingat untuk bersyukur lagi sama hidup gua :D
Yuli
do you have your own definition?
I am not good playing philosopher, but I remember a friend in Delft said I like to question things... If I don't stop, I'll become philosopher... I think I've questioned less these days... So, let's start with this awesome email. and a big question to answer.
Description: Victor is so into Pizza Hut's chicken wings (ehm, me too). Last weekend we went to Pizza Hut with my niece, Vivi, and Victor mentioned about trying to cook Chicken Wings ourselves. Well, why not...Uncle Google always a big help.
Originally, this recipe came from Buffalo Wings recipe I found @ Simply Recipe website. Yet, according to the recipe and comments, original Buffalo Wings always use Frank's Original Hot Pepper Sauce, which is hard to find in my hometown. So I substitute with our original ABC Saus Sambal Extra Pedas (sounds similar..if translated into English) plus a bit of tomato sauce to taste. Now it's no longer Buffalo style but Bandung style.
Ingredients: 5 pieces chicken wings 30 gr butter 4 tblspoon saus sambal 1 tblspoon tomato sauce 1/2 tblspoon black pepper salt & sugar to taste
Directions: 1) Cut off the wing tips and cut wings at the joint. Separate wing tips for making stocks (for other dishes..). Put wings into plastic container with lid. 2) melt butter, mixed with saus sambal, tomato sauce, black pepper, salt and sugar. 3) pour marinate sauce onto wings, close the lid and toss to evenly coat the wings. 4) Instead of marinate in room temperature, I cook the chicken and marinate sauce in pressure cooker. This to ensure the chicken is well-cooked and save me some marinating time. 5) brush the wings with excess marinate sauce and broil until become goldish.
pertanyaan ini ditujukan buat SELURUH MASYARAKAT BANDUNG... sangat mengecewakan karena DADA ROSADA, kembali terpilih dengan suara yang dominan lebih dari 60%
yang artinya...follow your heart... ada lagi istilah barunya versi Nugie: Lentera Jiwa = passion. lagu yang satu ini menurut saya pas banget.
liriknya kena banget... (yang paling kena lagi, kok di belakang ada yang kenal ya...?)
here is the complete lyric
LENTERA JIWA Lama sudah ku mencari, apa yang hendak kulakukan s’gala titik kujelajahi, tiada satu pun kumengerti tersesatkah aku di samud’ra hidup
kata-kata yang kubaca, terkadang tak mudah kucerna bunga-bunga dan rerumputan, bilakah kau tahu jawabnya inikah jalanku, inikah takdirku
Reff: biarkan ku mengikuti suara dalam hati yang s’lalu membunyikan cinta ku percaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku lentera jiwaku
woh…..ye…ye…
kubiarkan ku mengikuti suara dalam hati yang s’lalu membunyikan cinta ku percaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku lentera jiwaku
find out the poster, location map and list of presenter for Pecha Kucha Night Bandung #1. Feel free to leave comments and contact me if you need more information!
Was running thru old pictures, and found this under 'Christmas 2004'. This cute old man was my eldest uncle. He was my beer companion (before his doctor forbid him) and a great comedian. He lost his hearing couple years before he passed away. Yet he had smart way to make fun out of his lack of hearing.
His house is on the same street as ours in Indonesia... so, before, I always had habit to knock on his door the same day I arrived in Makassar...
Masih dalam rangka berusaha menjadi istri yang baik dan memahami kebiasaan makan Victor (sebelumnya belajar masak Genjer...), sekitar lebih dari 3 minggu lalu, saya membeli buku di gerai majalah di basement parkir Bandung Indah Plaza (apa yang dilakukan gerai majalah di basement? That’s not the topic…)
Judulnya: Masakan Sunda Populer & Lezat oleh Yeni Ismayani, terbitan Kriya Pustaka; kelihatanya satu seri buku masak karena ada judul kecil di bagian atas “Kuliner Nusantara”.
Mom datang 2 minggu lalu, waktu lihat buku ini, dia beli juga…
Setelah tiga minggu lebih tidak dikutak-kutik (hanya dipandangi sampe kelaparan) akhirnya kemarin malam, Victor dan saya mulai memilih-milih menu mana yang mau kita coba duluan.
We chose Ase Cabe Hijau, karena itu adalah masakan favorit Mami-nya Victor… simply because it looks simple and Victor knows exactly how it ‘should’ taste…
Untuk yang satunya lagi kriterianya HARUS sayur, karena ase udah penuh dengan daging.
This time is my choice: Pencok Leunca. Alasannya…we both love Leunca. (susah banget cari bahasa Indonesia-nya apalagi bahasa inggrisnya, so please just check picture Leunca
Keywords for Leunca: green, slightly bitter, fresh..ah and one thing, it is really Sundanese!
Tadinya kedua resep saya cantumkan bersama blog ini...alamak, ternyata sudah ada fitur recipe ya....jadilah saya masukkan saja ke kategori recipe.
though it is disappointing they don't have 'INDONESIAN' under 'style'...wondering why, since Indonesian food mostly everywhere. so LOUDLY: Multiply Administrator..please put "INDONESIAN" in your recipe style!!!
sorry these recipes are not in english…if you need them in english, you can email me (will try my best, thou cannot promise could translate all ingredients into english)
Description: Lesson learned: 1. no comment from Victor. Segar dan pedes aja katanya :D 2. Sebelumnya saya pernah makan di RM. Ibu Haji Ciganea, dan pencok leunca-nya pake suraung (kemangi). Rasanya lebih segar dan sedikit menutupi rasa pahit leunca. Akan dicoba kali berikutnya. 3. karena ini disajikan mentah, sebaiknya yakinkan semua bahan sudah dibersihkan. You don’t want to end up having stomach problem. 4. sebaiknya disajikan langsung setelah dibuat, karena hasilnya cenderung berair.
Ingredients: 200 gr leunca, cuci bersih 4 buah cabe rawit hijau 2 buah cabe rawit merah 1 ruas jari kencur 1 siung bawang putih ½ sdt terasi bakar 1 sdm gula merah Garam sesuai selera
Directions: 1.Haluskan cabe rawit, kencur, bawang putih, terasi, gula merah, dan garam dengan cobek. 2.masukkan leunca, ulek kasar. 3.Sajikan segera
Description: Lesson learned: 1. Tadinya saya mengurangi cabai hijau hanya 4 buah saja, ternyata, Victor bilang karakter ase yang biasa dia makan penuh dengan cabe hijau…meanings, follow the recipe! 2. karena ingin daging lebih lunak, saya masaknya pake pressure cooker. Alhasil, kuahnya menjadi berlebihan, sementara…again, kata Victor biasanya Ase itu tidak berkuah banyak: “nyemek-nyemek aja begitu…” Jadi, next time, bila dimasak dengan pressure cooker, airnya bisa dikurangi (setengahnya saja) lalu jangan digarami dulu. Setelah selesai dengan pressure cooker, masukkan cabe hijau dan tomat hingga layu, baru masukkan garam.
Ingredients: 10 buah cabai hijau, keluarkan bijinya, iris selebar 1 cm. 300 gr daging sapi tetelan, potong-potong 800 ml air 4 lembar daun salam 3 buah tomat hijau, belah 4 Garam sesuai selera
Bumbu, haluskan: 5 butir bawang merah 2 siung bawang putih 2 sdt merica (saya pilih merica butiran, biar lebih segar)
Directions: 1) rebus air, bumbu halus, daun salam, garam dan daging tetelan hingga daging empuk, aduk rata 2) masukkan tomat hijau dan cabai hijau, masak hingga layu dan semua bahan matang. 3) sajikan hangat
LABO. the m o r i; Jl. Bukit Dago Utara II No. 22 Bandung
imagine... creative ways to share creative ideas within EXACTLY 400 seconds (20 slides x 20 seconds) this are list of presenter (tentative per 19/Jul/2008:
Architects Yu Sing -confirmed Oky Kusprianto (Habitat for Humanity) -confirmed Glenn Hartanto (architecture lecturer) -confirmed
Graphic & Product Designer Bandung Public Furniture -confirmed Gilang Anom (11yrs old toy designer from Jendela Ide) -confirmed Yudi & Meizan (Bandung new Angkot) -confirmed Alexandra Crosby (www.alimander.com) -confirmed Batik Game NITIKI -confirmed
Movie & Music Agung Sentausa (Director of ‘GARASI’) -confirmed Modjembe Stomps (Percussion) -confirmed RIC SLIM and ZEO of NUFF SUM (Bandung Hip-Hop Talent) -confirmed The Sigit
Special Hobbies T.I. Reza (Architect cum Musicoholic) -confirmed
Art Curator Agung Hujatnikajenong (Selasar Sunaryo)
(Greet Surili-the 'Mohawk hair-styled Monkey' that only exist in Tatar Sunda-Bandung's mascot)
one can choose. to sit and complain, or to stand up and make things happen. we chose the second.
60% of bandung inhabitants are below 40 yrs old. half of them actively in creative economy. some of those who actively in Jakarta or other big cities, graduated from Universities in Bandung.
so, what to wait? we are claiming our cities to be one of new Creative Cities in the World.
in less than 6 months, the creative community of Bandung regularly meet up to make our dreams come true.
BCCF is how we call this community Bandung Creative Community Forum.
Helar Fest is the first BCCF event. check the website for complete story.
final but not least... welcome Bandung's new identity: the emerging creative city
come, we are open for new ideas and creative-minds.
*all images copyrighted by Bandung Creative Community Forum*
hai, sis... salam kenal nih... ayo datang ke butik aku ... ada tas seken kerenn original dari GUESS, NINE WEST, GOBELINI ,dll, dengan harga murah abis... cepetan jangan ketinggalan.. aku tunggu loh..
numpang promo sis....sista"cantik mmapir ya ke my site ada 2ndress,resale,assesories,cosmetik,bag,shoes,dllll...ada bonuss juga...ditunggu..terimakasih
ikutan isi buku tamu ya.... sampurasun.... ikut namu n liat foto-foto plesirnya ke negeri orang. hehehe... makasih buat wedang jahe n gorengannya ya... kalau ada waktu, nanti saya mampir lagi kapan-kapan... permisi bu....